HIJAB I’M IN LOVE (fiksi tapi nyata :P)

 

Orangtua, adik, sahabat, teman adalah orang yang selalu berada  dekat dengan kita. Menegur dikala kita berbuat salah, menyemangati dikala kita bersedih. Tak pernah terbayangkan melakukan suatu tindakan yang akan membuat mereka terkejut hingga membebani mereka. Namun apa daya bila itu telah menjadi suatu kewajiban yang disyariat kan oleh agama.

Semua orangtua menginginkan anaknya hidup bahagia, banyak teman, mudah bergaul, mendapatkan IP yang tinggi, serta aktif berorganisasi. Begitu juga dengan saya, mama sangat memperhatikan apa-apa yang saya butuhkan untuk mencapai itu semua. Salah satunya adalah penampilan, bagi mama penampilan adalah salah satu modal utama untuk menjalin suatu hubungan, baik itu hubungan pertemanan maupun hubungan dalam berorganisasi. Ketika mama mendapati bahwa saya telah berkerudung, mama mulai mendukung saya dengan memberikan segala kebutuhan yang saya perlukan. Mama pun mengajari bagaimana memakai kerudung yang rapi dan terlihat modern. Namun ketika mama mendengar kabar bahwa saya telah berjilbab, mama terlihat agak kaget. Mama mulai memikirkan dampak-dampak yang akan saya dapatkan bila saya berjilbab. Kami pun mulai beradu argument, hingga mencapai suatu kesepakatan untuk sementara saya mencoba untuk berjilbab, namun bila saya merasa tidak pas atau sudah mulai gerah, jilbab tersebut dapat saya lepaskan.

Kampus terasa berbeda ketika saya pergi kuliah dengan mengenakan jilbab, apalagi fakultas saya adalah ilmu dan teknologi kebumian. Ketika saya melangkahkan kaki memasuki kelas, tak sedikit teman yang melihat kearah saya, mungkin mereka merasa ada gerangan apa saya memakai pakaian seperti ini. Fahrah dan lia bahkan tidak bisa berkata apa-apa melihat saya mengenakan jilbab. Seminggu telah berlalu, tidak ada hal-hal aneh yang terjadi seperti yang dikhawatirkan oleh mama. All is well. Sampai suatu saat saya bertemu dengan Bima, salah seorang teman lama saya.“Yut, mau kemana kamu ?, kondangan ?”, saya pun hanya tersenyum mendengarnya. Beberapa jam setelah kejadian itu saya berkunjung kesalah satu unit di suncencourt, biasa mahasiswa tiada hari tanpa kumpul bareng teman. Tidak sengaja salah seorang teman saya berkomentar “ Aneh banget sih yut, kyak abis bangun tidur”. Dilanjutkan dengan komentar teman saya yang lainnya “ kamu kok kayak emak-emak sih yut. Emak saya aja pake jeans gak pake baju begituan”, dan beberapa komentar canda lainnya. Perhatian mereka merupakan suatu kelebihan yang saya miliki ternyata masih banyak teman saya yang sangat peduli dengan saya. 2 minggu berlalu, semakin banyak orang yang mempertanyakan apa yang telah terjadi dengan saya hingga saya memakai jilbab. Alhamdulillah, dengan memakai jilbab dengan tidak sengaja saya telah diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk belajar berdakwah. Walaupun begitu banyak komentar yang datang kepada saya baik itu yang mendukung dan mengkritik, saya bertekad untuk terus mengenakan jilbab karna ini merupakan hukum yang telah ditetapkan Allah SWT, didalam Al-Qur’an.

Munculnya tekad untuk mengenakan jilbab selamanya ternyata menjadi suatu cobaan yang menimbulkan gejolak dalam diri saya. Fahrah nampaknya mengetahui hal tersebut, “Yut, memang apa bedanya kamu pake jilbab sama kamu pake baju atasan + rok, kan sama-sama nutup aurat dan longgar, tidak membentuk tubuh”,. Saya pun mulai menjelaskan adanya perintah dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab 59 yang menyerukan untuk menggunakan jilbab bagi muslimah. “Tapi kamu keliatan gak nyaman yut dengan jilbab itu. Kalo kamu nyaman sih aku gak masalah. Kamu cuman biasa aja mengenakannya tapi kamu gak merasa nyaman yut. Kalau kamunya aja gak nyaman apa lagi orang yang ngeliatnya yut”, kata fahrah. “Aku peduli yut sama kamu. Kalau aku gak peduli, kamu mau ngapain aja terserah kamu yut”, kata fahrah lagi. Saya pun mulai berfikir apakah benar langkah yang saya ambil ?, mengapa begitu banyak kritikan yang datang ?. Berbagai macam sumber artikel dan hadist mengenai jilbab pun mulai saya kaji kembali. Berbagai pertanyaan pun saya lontarkan kepada kakak tingkat yang telah mengenakan jilbab agar lebih memantapkan hati saya untuk berjilbab.

Alhamdulillah, hingga saya menuliskan tulisan ini telah banyak kritikan yang membantu saya dalam memantapkan hati untuk berjilbab dengan niat karna Allah SWT. Betapa besarnya kasih sayang Allah kepada hambanya. Allah tidak ingin kita hanya mengikuti apa kata orang tanpa tahu asal dari hukum tersebut, tanpa mengkajinya terlebih dahulu dengan akal. Karena pada hari akhir nanti kita akan dihisab dan dipertanyakan tentang setiap hukum yang kita percayai dan amalkan.

Advertisements

2 thoughts on “HIJAB I’M IN LOVE (fiksi tapi nyata :P)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s