KEBANGKITAN yang HAKIKI (bagian 1)

 

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali setelah mereka merubah diri mereka sendiri.” (TQS. Ar-Ra’du: 13)

 

Kebangkitan, tidak akan datang dengan sendirinya tanpa ada daya dan upaya dari suatu kaum untuk mencapainya. Sebelum ada daya dan upaya tersebut harus lah dipahami apa arti suatu kebangkitan itu. Kebangkitan merupakan suatu perubahan dimana terjadinya suatu pergerakan dari kondisi yang terpuruk menuju kepada kondisi yang sesuai fitrah manusia, menenangkan hati dan dapat diterima secara akal manusia.

Suatu kaum tidak akan merasakan urgensi dari memperjuangkan suatu kebangkitan, bila mereka tidak merasakan adanya suatu ketidakberesan dengan kondisi yang terjadi. Suatu kaum yang telah terbiasa berada pada kondisi yang terpuruk tidak akan merasakan suatu keganjilan dengan kondisi tersebut. Kaum tersebut telah berada dalam comfort zone yang semu. Mereka tidak menyadari bila kemiskinan, korupsi, ketidakadilan, perbudakan, kekerasan, pornografi, homoseksual serta kejahatan lainnya merupakan suatu permasalahan. Kaum tersebut terlalu sering merasakan kondisi ketdaknyamanan tersebut sehingga mereka telah memaklumi adanya kondisi tersebut sehingga tidak terbesit suatu keinginan untuk terbebas dari kondisi tersebut. Untuk menyadarkan kaum tersebut diperlukan suatu cara atau metode yang dapat menyadarkan mereka akan betapa pentingnya suatu kebangkitan itu.

Bila suatu kaum yang terpuruk tersebut sudah menyadari adanya suatu ketidakberesan dengan keadaan mereka. Dengan sendirinya mereka akan mempertanyakan tentang kebangkitan itu dan bagaimana cara mencapainya. Untuk mencapai suatu kondisi yang dapat dikatakan “bangkit”, harus diketahui terlebih dahulu seperti apa kebangkitan yang hakiki itu.

Dalam menyadarkan atau mengubah suatu pemahaman suatu kaum yang menginginkan kebangkitan diperlukan metode yang dapat diterima akal dan hati dengan senang hati tanpa paksaan. Metode yang dapat digunakan adalah dengan melakukan perubahan pemahaman secara pemikiran. Mengapa perubahan secara pemikiran yang harus digunakan? Banyak fakta yang dapat menjawabnya. Bila suatu perubahan pemahaman didasarkan pada suatu paksaan akan mudah hilang bila kekuasaan yang mengikat telah luntur. Sedangkan bila suatu pemahaman didasarkan pada suatu doktrin akan menimbulkan suatu tanda tanya besar yang tidak menentramkan jiwa dan memuaskan akal. Sedangkan bila suatu perubahan pemahaman yang didasarkan dari suatu pemikiran maka akan didapatkan hasil pemahaman yang memuaskan akal dan tidak berdasarkan paksaan yang dapat diterima dengan senang hati.

Setelah kita memahami urgensi dari kebangkitan serta bagaimana cara mengubah pemahaman suatu kaum tentang perlunya suatu kebangkitan, maka harus dipahami lebih lanjut bagaimanakah kebangkitan yang hakiki bagi suatu kaum itu dapat tercapai. Banyak masyarakat yang berpendapat bahwa kebangkitan yang hakiki bagi suatu kaum dapat dilihat dari segi ekonomi, teknologi, pendidikan, serta akhlak. Namun bila kita telaah lebih dalam lagi mengenai masalah kebangkitan yang hakiki, bidang ekonomi bukanlah suatu asas atau tolak ukur yang mendasar yang menyebabkan suatu kaum itu bangkit secara menyeluruh. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa banyak negara Arab yang tingkat ekonominya amat maju melebihi negara Amerika Serikat namun masyarakat dunia tidak menganggap negara Arab sebagai Negara adidaya. Dengan tingkat ekonomi yang tinggi apakah menjadikan Negara Arab berdaulat? Kita mengetahui bahwa ketika negara adidaya—katakanlah—membeli minyak dari negara Arab, Negara Arab tidak dapat berbuat apa-apa bila negara adidaya tersebut telah menetapkan suatu harga pasar yang menjatuhkan harga minyak mereka. Kejatuhan harga minyak dapat menimbulkan dampak pada hilangnya kemajuan ekonomi negara Arab tersebut. Dapat kita lihat bahwa kemajuan ekonomi bukan merupakan suatu tolak ukur mendasar atau asas dari sebuah kebangkitan yang hakiki.

Apakah kemajuan dan penguasaan teknologi dapat menghantarkan suatu Negara pada kebangkitan? Korea merupakan negara yang dapat dikatakan menguasai teknologi. Berbagai gadget telah diluncurkan sebagai hasil dari perkembangan teknologi yang begitu pesat tersebut. Namun bagaimana dengan kehidupan masyarakat Korea? Di tengah kemajuan teknologi yang dialami Korea, Korea merupakan negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia setelah Jepang. Kenyataan ini tentu menyadarkan kita bahwa majunya teknologi suatu negara tidak menjadi suatu jaminan bahwa negara tersebut dapat mencapai kebangkitan yang hakiki.

Terkadang masyarakat juga beranggapan bahwa pendidikan adalah parameter yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur kebangkitan yang hakiki pada suatu negara. Banyak sekali negara-negara islam yang memiliki beribu-ribu pelajar dari kalangan siswa SD hingga mahasiswa perguruan tinggi, tidak sedikit pula yang merupakan lulusan universitas-universitas papan atas dunia. Namun apakah dengan banyaknya pelajar berkorelasi dengan kebangkitan negara-negara tersebut? Pada faktanya jumlah lulusan-lulusan pendidikan formal tetap tidak berdaya tanpa adanya dukungan sistem Negara mereka sendiri. Pendidikan berhasil mewujudkan individu-individu yang mumpuni dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi gagal dalam membentuk masyarakat yang bangkit dari kondisi terpuruknya.

Kebanyakan negara yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam beranggapan bahwa kebangkitan yang hakiki dapat dicapai bila telah terbentuk suatu akhlak yang baik dari masing-masing individu dari suatu negara. Padahal, bangkitnya seorang individu tidak berkorelasi dengan bangkitnya masyarakat. Hal ini dikarenakan individu hanyalah bagian dari suatu masyarakat dimana masyarakat merupakan kumpulan dari individu-ivdividu yang saling melakukan interaksi antar satu dan yang lainnya, sehingga diantara mereka muncul suatu kesepakatan mengenai apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang terpuji dan apa yang tercela. Di antara individu-individu dalam masyarakat pun diikat oleh peraturan yang disepakati oleh mereka. Oleh karena itu, bila hanya individu-individunya saja yang bangkit belum tentu tercapai pula kebangkitan masyarakat karena masih terdapat faktor lain yang membentuk masyarakat, yaitu perasaan, pemikiran, serta peraturan yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat yang perlu diubah untuk mencapai suatu kebangkitan. Jelaslah bahwa akhlak bukan merupakan landasan untuk mencapai skebangkitan yang hakiki di tengah-tengah masyarakat.

Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya, kita perlu kembali merenungi bahwasanya kebangkitan di bidang ekonomi, pendidikan, teknologi, ataupun akhlak tidak menjadi suatu tolak ukur mendasar yang dapat menjadi ukuran tercapainya suatu kebangkitan yang hakiki. Diperlukan suatu tolak ukur yang lebih mendasar yang dapat dijadikan suatu landasan kebangkitan, yaitu sesuatu yang kita sebut sebagai asas atau landasan berfikir atau ideologi dimana dari kebangkitan ideologi inilah akan lahir kebangkitan di berbagai bidang lainnya, seperti ekonomi, teknologi, pendidikan, maupun akhlak.

Sebuah kebangkitan yang hakiki hanya dapat kita capai dengan ideologi. Namun, ideologi apakah yang mampu mewujudkan kebangkitan yang hakiki? Apakah pancasila, demokrasi, atheis, feminisme, fasisme serta atheis merupakan suatu ideologi yang dapat menjadi fondasi kebangkitan? Apakah ideologi-ideologi tersebut mampu memecahkan permasalahan mendasar manusia serta melahirkan peraturan-peraturan cabang untuk mengurusi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh manusia? Ideologi-ideologi yang telah disebutkan sebelumnya merupakan set of philosophy yang tidak memiliki aturan yang jelas tentang bagaimana menyelesaikan berbagai persoalan di kehidupan manusia baik itu berupa permasalahan ekonomi, politik, sosial-budaya, pendidikan dan sebagainya. Lalu ideologi apa sajakah yang dapat dijadikan suatu landasan dalam mencapai suatu kebangkitan yang hakiki? Terdapat tiga ideologi yang terbukti secara historis mampu membawa suatu Negara pada kebangkitan. Ideologi tersebut adalah Islam, Kapitalisme, dan Sosialisme. Mengapa hanya tiga ideologi tersebut? Karena ketiganya memiliki aturan secara menyeluruh dalam berbagai bidang kehidupan, bukan hanya set of philosophy. Namun, diantara ketiganya memiliki landasan yang berbeda secara fundamental. Bagaimana ketiga ideologi ini dapat menghantarkan pada kebangkitan akan dibahas pada tulisan selanjutnya, Insya Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s