Kata itu

Kala itu kata “buyah” amat terasa begitu ganjil bagiku untuk memanggil seorang pria yang bertanggung jawab akan kehidupan ku didunia. Ya layaknya anak usia kelas 1 sd lainnya, baginya memanggil seorang wanita yang melahirkannya dengan kata “mama” akan begitu tepat jika disandingkan dengan kata “papa”. Terngiang sebuah kejadian yang cukup membuat ku akhirnya bertahan untuk memanggil pria itu dengan kata “buyah”. Ya pagi itu, Idul fitri yang ke-7 bagi Hajar kecil, hari terasa amat sangat menakjubkan karena banyak orang dengan satu kepentingan yang sama yaitu saling bersilaturahmi  berkumpul pada hari itu. Hajar kecil pun memulai untuk mengenali kumpulan orang itu. Ya, tentu mama tak luput merupakan orang yang mendampingi proses ini. “Aku mau manggil buyah dengan sebutan papa” rengek Hajar kecil dihadapan kumpulan orang itu. Ketika mama masih berusaha untuk membujuknya, datanglah seorang yang nampak berusia lebih muda dari mama. “Kalau buyah dipanggil papa nanti ketuker dong panggilannya sama papa sibat”, ujar seseorang yang datang tersebut.  Ya Hajar kecil baru saja menyadari, ada begitu banyak orang dalam kumpulan tersebut yang harus dipanggilnya dengan sebutan papa, ayah dan buyah. Dengan keterbatasan pengetahuan yang dimilikinya saat itu, Hajar kecil pun akhirnya menerimanya, ya menerima untuk memanggil pria itu dengan kata Buyah.

Sempat terngiang kejadian itu, kembali mengingat apa yang telah terjadi membuat senyum kembali mengembang, membuat tawa kembali bersahutan, bahkan membuat tangis dapat mengalir dengan sendirinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s