Arta Ariasena (bagian 1)

Ini adalah sebuah kisah tentang pencarian jati diri, pencarian iman, pencarian tujuan hidup, serta pencarian tentang makna dari sebuah berusaha.

Hidup selalu memiliki plot cerita yang berbeda, berbeda untuk setiap orangnya. Tak akan pernah sama dan tak akan pernah tertukar, kuasa-Nya membuat semua ini terjadi. Seperti halnya air hujan yang akan selalu jatuh kebawah membasahi bumi, kehidupan akan terus bergulir dari satu generasi kepada generasi dibawahnya, dari seorang ayah kepada anaknya, dari seorang ibu kepada anaknya. Kehidupan tidak akan pernah benar-benar berakhir bagi sekumpulan manusia, khususnya bumi dan alam semesta ini hingga akhirnya kiamat menghampiri. Kiamat bila di kerucutkan dalam suatu pandangan seorang manusia berarti adalah akhir dari kehidupannya. Ya kehidupan seorang manusia tentunya akan berakhir juga bukan, bahkan berakhirnya sudah pasti namun masih menjadi misteri ilahi. Kisah ini bukanlah sebuah renungan tentang menghadapi sebuah kematian, atau sebuah acuan dalam menghadapi kehidupan dunia. Bukan kawan, bila engkau ingin mendapatkan keduanya bacalah Al-Qur’an, didalamnya sudah amat sangat banyak terkandung pembelajaran bagi manusia yang tidak tertandingi oleh buku motivasi manapun, sudah amat sangat banyak kisah yang tidak tertandingi oleh buku cerita manapun. Kisah ini diawali pada masa perkuliahan seorang anak perantauan berusia 22 tahun, Arta. Arta Ariasena

“Ta, kamu hari ini ngampus gak ?”, tanya lily. Lily kisarasih, seperti namanya dia begitu cantik layaknya bunga lily, selalu membuat semua orang berpaling memandangnya. Cantik dalam arti yang sebenarnya, cantik walau tanpa riasan segarisa pun. “Enggak terlalu berminat ni sama kampus ini, sama kampusnya aja gak minat apalagi pake ngampus”, sahut Arta. Kampus itu dimasa kini sudah menjadi kampus yang ternama bahkan banyak anak dari luar kota pun ikut berjibaku untuk dapat berkuliah dikampus itu, namun pada masa itu banyak yang memandangnya dengan sebelah mata. Terlebih lagi orang tuanya yang selalu tak acuh membuat arta ingin membuktikan bahwa dirinya dapat berkuliah di tempat yang lebih baik. Kampus itupun hanya menjadi pelampiasan dan sekedar pengisi waktu luangnya, ya mengisi waktu luang dikala bosan bermain dan mengeksplor diri. “Dari dulu deh kamu selalu bilang hal itu, gak minat lah, gak tertarik lah. Hello Arta, ini udah tahun ketiga mu dikampus ini dan kamu pun sudah mencoba hingga 3 tahun berturut-turut bukan untuk berkuliah dikampus tetangga. Namun apa hasilnya ?, nihil ta, tau gak ? kalo nyampe 3 kali gagal berarti tuhan udah ngasih pertanda bahwa kampus sebelah itu enggak baik buat kamu ta”. Kali ini Lily kehabisan kesabarannya, sudah sejak tahun pertama kuliah di kampus ini mereka berteman namun Arta yang dikenalnya tetap saja keras kepala mengejar cita nya tanpa melihat realita. Arta, sesuai dengan namanya yang singkat padat dan konsisten, bagi Lily dia adalah seorang sosok perempuan yang singkat dan konsisten. Ya, arta selalu saja konsisten dengan apa yang diucapkannya, selalu konsisten dengan apa yang menjadi impiannya, serta selalu konsisten dengan apa yang dianggapnya benar. Seperti saat ini, dia selalu saja konsisten untuk terus dan terus mencoba setiap tes untuk dapat berkuliah dikampus tetangga. “Hello Lily yang cantik jelita dan selalu bersemangat dalam menjalani setiap hari yang membosankan disini. 3 kali gagal itu berarti Tuhan lagi mencoba melihat kesungguhan makhluknya tau. Siapa yang bakalan ngira coba kalau nanti pas dicoba sampai 4 kali, 5 kali, 6 kali ternyata masuk di salah satu percobaan itu. Hidup harus optimis kali ly”. Selalu optimis namun dikasus yang salah merupakan salah satu ciri khas arta, dia hanya optimis di hal-hal yang disenanginya, dikaguminya. “ Arta Ariasena yang selalu melawan aturan dikampus, tolong deh optimisme nya itu dibawa buat menghadapi perkuliahan di kampus ini. Bisa kali ta, bayangin kalo kamu optimis banget sama masa depan jurusan kita. Optimis banget sama hal yang lagi kita jalanin sekarang ini. Jadi orang nomor satu dijurusan bisa-bisa kamu ta”, Tawa Lily terlepas di akhir katanya melihat wajah Arta yang sudah manyun mendengar celotehnya siang ini. “Kan, kamu gak jadi kuliah kan, liat deh sekarang udah jam berapa, udah telat 30 menit kali. Sana kuliah sana”, usir Arta. Dia sadar bahwa apa yang Lily katakan memang benar, sadar 100 % bahwa seharusnya optimis itu harus di kawal dengan rasa syukur. Tidak ada salahnya bukan untuk optimis pada keduanya, baik itu kuliah ataupun kampus sebelah. Sadar secara ruhiyah belum berarti raga ini akan melakukannya bukan ?, ya begitulah Arta kesadaran ruhiyahnya belum mampu membuat dirinya tertarik untuk fokus pada kuliahnya sekarang ini. Ya belum mampu. “ Ah, kamu sih, ups, jadi nyalahin kamu deh padahal aku juga yang dari tadi ceramah ya. Maaf deh, main ke parang tritis aja yuk. Mungkin tiupan angin bisa membawa optimismu itu kesisi yang seharusnya.”,Tawa Lily kembali menampakkan barisan giginya yang rapi. Lily selalu saja menghadapi semua hal dengan senyumnya dengan tawanya. Selalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s