Arta Ariasena (3)

“Ly, apa kabar si Arta ?, udah lama dia gk keliatan, ada kali 2 minggu,” tanya Dhila. Ardhila putri, mahasiswa Teknik Kimia kampus sebelah yang tetap tegar menjalani perkuliahan ditahun ke  7-nya. “Ih, abis makan apa tadi pagi Dhil, ko nyariin Arta”, ledek Lily disambut tawanya yang selalu mengundang tawa lawan bicaranya. “Kok malah ketawa sih, ini nanya serius lo Lily yang cantik jelita. Enggak ada temen berantem ni. Dia lagi ada masalah ya ?, terakhir kali ngeliat dia kusut pake banget wajahnya. Sendu gitu enggak garang kayak biasanya”, jawab dhila tanpa memperdulikan tatapan curiga Lily. Dhika merupakan salah satu dari sekian banyak pria yang menjadi musuh Arta, musuh dalam makna yang rumit apa lagi udah menyangkut kata Arta didalamnya. Tidak seperti kebanyakan permusuhan antara dua anak manusia pada umumnya, permusuhan dengan Arta berarti persaingan dalam berbagai hal. Dhila adalah salah satu musuh Arta, musuh menyangkut masalah peraturan dikampus. Seperti yang kalian tau, jurusan yang Arta terpaksa berkuliah didalamnya adalah jurusan keguruan yang tidak luput dengan peraturan tentang kegururannya dalam masa perkuliahan. Layaknya guru wanita pada umumnya, di jurusan ini diwajibkan menggunakan rok dalam setiap perkuliahannya. Arta ?, tentunya dengan segala keengganannya dan segala ke antikannya dia menolak dengan keras semua peraturan keguruan itu terutama menggunakan rok ini. Alhasil sang kakak tingkat Ardhila Putri menjadi salah satu musuh terberat bagi Arta. Walaupun beda jurusan tetapi menjadi asisten dosen di jurusan keguruan merupakan gerbang awal permusuhan itu dimulai. “Dhil, dhil, perhatian amat sampe muka kusutnya si Arta aja bisa kamu bedain sama muka garangnya”, tawa Lily kembali memenuhi kesunyian siang itu. “Ah, kamu Ly, bukan jawab malah ngeledekin mulu deh,” sungut Dhila. Tak tega melihat wajah Dhila berubah bentuk Lily pun menjawab dengan serius, “Iya Dhil, dia lagi terpuruk karena kampus sebelah ni. Ditambah lagi udah banyak temen seangkatan kita yang pada lulus. Kerasa banget kalau selama lima tahun ini udah lalai, udah buang-buang kesempatan. Sejauh ini dia masih belum nentuin Dhil, masih mau bertahan dikampus ini atau gimana. Kamu tau kan kalau dia enggak suka sama sekali dengan semua peraturan disini, dan lagi pula banyak dosen yang nyerah buat ngeladenin dia”. Kini Dhila mengerti mengapa akhir-akhir ini Arta sedikit berubah, nasi telah menjadi bubur bukan ? lima tahun bukan waktu yang singkat bahkan bila lima tahun diibaratkan usia makhluk hidup yang terus tumbuh seperti bayi, mungkin di usia yang ke-lima tahun ini bayi itu sudah bisa berjalan dan berbicara. Penyesalan bukan tidak selamanya harus diratapi bukan, namun harus menjadi cambuk introspeksi, ya penyesalan selalu datang terlambat untuk suatu perkara yang telah terjadi namun selalu datang paling awal untuk suatu perkara yang akan terjadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s