Arta Ariasena (bagian 4)

“Arta, buka pintu kamarnya dong, ada orang super spesial ni disini. Kamu pasti bakalan kaget berat deh” ledek Lily sambil melihat Dhila yang berdiri di depan pintu kamar Arta. “Siapa Ly ?, bukan tukang kredit atau ibu kos kan ?”, jawab Arta. Pintu kamar pun terbuka, terlihat wajah Arta yang baru bangun tidur. “Ya ampun, aku sangka siapa ly, ternyata si dhila. Kaget sih makhluk satu ini bisa ada disini, ngapain weh ?”, tanya Arta sambal bercanda. “Aku kan kayak kucing yang keilangan tikus Ta, pas kamu gak ada gak seru, gak ada temen berantem”, sahut Dhila. Tawa ketiga anak manusia itu ikut mewarnai kesederhanaan kos tengah kota jogja yang ramai.

“Ngapain aja Ta 2 minggu ini, gak keliatan dikampus. Ada maenan baru ya dikosan ?”, tanya dhila, rasa penasarannya seakan tidak sabar menunggu agar Arta menceritakannya secara langsung. “Maenan ?, kucing ?, iya ni baru ada kucing baru dikosan seminggu ini dia kurus banget makanya aku rawat dulu biar gendutan dikit”, jawab Arta sekenanya. “Seriusan Ta, seminggu ini kamu gak kuliah gegara ngurusin kucing ?, Enggak deh, Mata kamu aja bengkak gitu”, sanggah Lily tidak percaya. “Kan tadi nanya tentang maenan, ya itu kucing. Kalo seminggu ini ngapain, ya cuman guling-guling bareng kucing, makan, tidur, ke wc, balik lagi deh ke guling-guling. Bingung mau ngapain, kuliah udah ketinggalan jauh, jadi nambah beban kemalasan untuk kuliah ni jadinya”, Jawab Arta. “Ah, kuliah baru mulai 2 minggu kali Ta, lagian kalo ngomong ketinggalan kuliah mah bukan kamu aja kali. Ada berpuluh orang bernasib sama seperti kamu. Semua dimulai dari diri sendiri Ta, kata BANGKIT, SEMANGAT, BISA, dari aku gak bakalan mempan kalo memang kamunya gak mau buat bangkit, buat semangat, dan buat bisa”, jawab Lily. Bagi Arta, Lily adalah sehabat terbijak, terbaik dan ter-lainnya, ya kata-katanya selalu menghujam namun menenangkan. Membangkitkan gejolak semangat yang telah terpadam, semangatnya layaknya nyala korek yang membangkitkan unggun api yang semakin membesar, semakin menguat dan semakin membara. 15 menit terasa seperti sebulan dalam keheningan yang terjadi, ya waktu yang cukup untuk membuat Arta memutuskan untuk kembali memperjuangkan apa yang telah dimulainya. “Jadi besok ada Pr apa ya ?, jadwal kuliah liat dimana sih ?”, senyum Lily dan Dhila saling terkembang mendengar pertanyaan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s